Sumber : www.isaca.org/ContentManagement/ContentDisplay.cfm?ContentID
Audit Kontinu : Mengambil Peluang
oleh : Robert Nehmer, Ph.D
penerjemah : Agung Darono
Continuous Audits : Taking the Plunge
Source : Information Systems Control Journal.
©2003 ISACA. All rights reserved. Translated with permission
Bagaimana suatu perusahaan memutuskan apakah menggunakan audit kontinu dan kapan memulainya? Jika perusahaan memutuskan untuk menerapkan audit kontinu, bagaimanasebaiknya proses penerapan itu dapat diawasi? Apa sebenarnya audit kontinu itu? Artikel inimemberikan definisi praktik audit kontinu (continuous audit) yang memudahkan untuk dioperasionalisasikan. Hal ini ditulis untuk auditor sistem informasi dan para manajer di bidang tersebut yang mungkin pernah mendengar tentang audit kontinu dan ingin tahu apa sesungguhnya artinya. Titik perhatian dari artikel ini adalah audit sistem informasi internal dan pengantar mengenai teknologi baru. Audit kontinu pada dasarnya merupakan suatu teknologi yang sudah mulai berkembang di banyak perusahaan.
Audit Kontinu
Audit kontinu sering didefinisikan secara eksplisit dalam kerangka fungsi audit independen. Dalam banyak kasus, hal ini sebenarnya pembatasan yang tidak perlu. Memfokuskan pada aspek sistematik dalam audit, hal ini merupakan salah jenis fungsi pengendalian dimana organisasi dapat menggunakannya untuk mengelola diri mereka sendiri. Dalam perspektif ini, audit merupakan fungsi pengendalian atas sistem pengendalian internal dan proses operasional. Jika sistem pengendalian internal menempati merupakan pengendalian ini atau terletak di urutan pertama atas sistem pemrosesan operational, maka auditing merupakan pengendalian sekunder atau terletak di urutan kedua atas sistem. Jadi manfaat audit adalah untuk memantau proses operasional, biasanya melalui pengendalian utama dan melaporakan adanya penyimpangan yang signifikan.
Komponen pelapaoran sistem mengarahkan definisi praktis dari audit kontinu. Dalam organisasi dengan efektifitas yang tinggi, laporan dibuat hanya jika hal itu bermanfaat untuk proses pengambilan keputusan. Dalam keadaan yang sempurna, frekuensi pelaporan dapat dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Contoh, menyediakan akses online data persediaan bagi para rekanan bisnis akan meningkatkan jumlah pengambilan keputusan yang didasarkan pada informasi persediaan. Keadaan ini, sejalan dengan meningkatnya permintaan akan pengambilan keputusan bersifat ad-hoc ataupun seketika, mendorong meningkatkan frekuensi siklus pelaporan. Peningkatan frekuensi pelaporan juga mendorong peningkatan siklus pengendalian utama dan sekunder. Pengurangan waktu siklus mengarah pada situasi dimana pemantauan kontinu dengan jangka waktu bervariasi (urutan pertama), audit dan penjaminan kontinu (urutan kedua) dan pelaporan kontinu (siklus pengambilan keputusan). Selanjutnya, artikel ini akan mendiskusikan berbagai cara untuk memahami kapan suatu organisasi memulai audit secara kontinu dan bagaimana memahami perkembangan audit kontinu.
Prasyarat untuk Audit Kontinu
Laporan penelitian berjudul Continuous Auditing, sebagai hasil kerja sama antara AICPA dengan CICA, mengidentfikasi enam prasyarat yang harus ada terlebih dulu sebelum suatu organisasi menerapkan audit kontinu. Laporan riset ini memfokuskan pada audit kontinu yang terkait dengan audit independen. Namun, prasyarat juga dapat ditafsirkan secara alternatif sebagai faktor-faktor yang memndorong suatu organisasi menerapkan audit kontinu agar memelihara pengendalian atas sistem yang dimilikinya agar memenuhi prasyarat tersebut.
Enam prasyarat itu adalah :
• Adanya suatu sistem yang secara karakteristik cocok
• Adanya sistem informasi yang andal, termasuk pengendalian utamanya, yang mengumpulkan dalam dalam sistem
• Adanya audit atau sistem pengendali skunder dengan tingkat otomatisasi yang tinggi
• Adanya kecakapan auditor dalam teknologi informasi dan sistem
• Adanya tata cara yang andal untuk mendapatkan hasil dari proses audit
• Adanya pengendalian atas proses pelaporan audit.
Setiap faktor atau prasyarat tersebut akan diuraikan secara singkat dalam paragraf berikut.
Faktor pertama adalah sistem yang mempunyai karakteristik yang cocok. Sistem disini merupakan suatu yang menjadi dasar yang melaksanakan berbagai tugas untuk organisasi. Contohnya: persediaan, personalia dan transportasi. Hal ini merupakan suatu contoh system dalam dunia nyata yang dapat dibangun menjadi sistem informasi sehingga dapat dikelola secara lebih baik. Semakin baik pemodelan sistem-sistem ini, maka sebaik mungkin untuk audit kontinu. Sistem dapat dimodelkan secara lebih mudah jika ia memiliki proses dan data yang sudah terdefinisikan dengan baik. Sistem yang seperti ini telah mengarahkan dirinya menjadi otomasi.
Pertimbangkan dua bentuk transportasi yang berbeda – satu di negara dimana terdapat infrastruktur dan industri transportasi yang sudah matang dan satunya di negara yang belum mempunyai infrastruktur dan layanan transportasi yang lengkap. Jika di negara pertama keadaannya mengarah pada transportasi yang tertata baik dari segi waktu, rute, dst. sementara di negara kedua keadaannya tidak demikian, maka jaringan transportasi di negara pertama akan memudahkan pemodelan dan otomasi atas penjadwalan logistik juga lebih mudah. Hal ini secara
berpengaruh secara langsung kepada faktor kedua – sistem informasi yang reliabel. Jika manajer sudah memahami sistem yang mendasari tersebut, akan terdapat dorongan untuk mengelolanya dengan seminimal mungkin sumber daya. Hal ini biasanya melibatkan otomasi, sebagaimana contoh transportasi tadi. Setelah sistem informasi yang andal diimplementasikan bersamaan dengan sistem pengendalian utama, proses dan prosedur audit cenderung untuk menjadi rutis dimana properti sistem informasi dan risiko sistem telah diketahui dan dipahami dengan baik. Hal ini, pada gilirannya, akan mendorong untuk mengotomasikan proses audit.
Sistem audit yang telah terotomasi merupakan pendorong ketiga untuk menuju audit kontinu. Untuk menjustifikasi investasi dalam sistem informasi yang terotomasi pada level tinggi, system pengendalian utama dan sistem audit, manfaat yang diperoleh dari sistem tersebut harus melampaui biaya atas sistem tersebut. Situasi ini terjadi jika terdapat tawar-menawar atas risiko relatif atas biaya pengendalian risiko tersebut. Bagaimanapun, biaya untuk memanatau masukan kas, keluaran dan saldo bank dan menyediakan jaminan atas keandalan sistem dan integritas data adalah relatif kecil. Monograf penelitian Audit Kontinu menyarankan bahwa faktor ini dipengaruhi oleh tiga subfaktor :
• Tingkat keandalan sistem informasi yang dibutuhkan aplikasi
• Tingat dimana perangkat audit diintegrasikan dengan sistem informasi organisasi
• Frekuensi dari aplikasi untuk mengotomasikan prosedur audit
Dua subfaktor pertama mempunyai dampak langsung untuk kebutuhan terhadap audit kontinu. Sistem informasi dengan tingkat reliabilitas yang tinggi dibutuhkan oleh suatu aplikasi yang biasanya berimplikasi bahwa sistem informasi berkait-erat dengan sistem fisik, seperti misalnya suatu lingkungan produksi otomatis. Pastikan bahwa sistem informasi yang bersangkutan tetap menjaga reliabilitasnya dengan mengotomasikan pengendalian internal. Sampai pada satu tingkatan pengendalian internal dan proses dasar yang sedang dipantau oleh perangkat dan aktivitas audit terintegrasi, organisasi akan sedikitnya melihat adanya peningkatan dalam pemantau kontinu, jika tidak dalam penjaminan kontinu.
Subfaktor ketiga, frekuensi dari aplikasi untuk mengotomasikan prosedur audit, meningkatkan tekanan untuk mengadopsi audit kontinu dengan memperpendek waktu siklus. Pengurangan waktu siklus dibuat oleh tekanan untuk melaporkan bahwa segmen informasi dari system infromasi atau pengendalian atas suatu basis yang lebih kontinu, dengan demikian, tekanan untuk audit kontinu juga semakin meningkat. Contoh dari hal ini adalah penempatan barang dalam sistem distribusi dengan akurat dikarenakan adanya denda yang sifatnya legal. Situasi ini akan mendorong auditor untuk menuju pada tingkat kemahiran yang tinggi dalam teknologi informasi dan sistem operasional yang menjadi dasar. Auditor dengan tingkat kemahiran tinggi dalam kedua hal tersebut akan menggunakan kemahiran tersebut untuk menghemat otomasi dan siklus waktu.
Dua faktor terakhir, dimana hal itu mendorong untuk berpindah ke audit kontinu jika sistemnya memang berkarakteristik demikian, berkaitan dengan pelaporan temuan audit. Sampai suatu tingkat dimana hasil audit sebagai umpan balik sekunder (hampir) dikomunikasikan secara kontinu dengan cepat untuk proses pengambilan keputusan yang relevan, proses-proses tersebut ataupun secara individual, mengarah pada audit kontinu. Contoh, pelaporan online atas laporan keuangan kepada investor atau tingkat persediaan kepada rekanan bisnis akan mendorong hal ini dengan menitiberatkan pada informasi mutakhir yang diinginkan konsumen. Tambahan pula, audit kontinu dapat memisahkan laporan audit tradisional. Pengendalian atas rancangan mekanisme pelaporan, termasuk keamanan pengiriman dan tempat, berarti bahwa keluaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengambilan keputusan yang spesifik atau individual. Kencenderungan ini akan memperluas spektrum para pengambil keputusan, mengarah pada diversifikasi kebutuhan waktu pelaporan. Contohnya adalah laporan atas tingkat persediaan kepada kelompok tertentu di luar organisasi, seperti pemasiok, bank atau pemerintah. Kebutuhan akan laporan yang berbeda dan waktu laporan yang juga berbeda akan meningkatkan jenis laporan audit dan selanjutnya akan mendorong kebutuhan akan pemantauan, penjaminan dan pelaporan yang kontinu.
Kesimpulan
Audit kontinu adalah satu teknologi yang sudah tersedia bagi kita. Standarisasi proses binis dan otomasi mendorong sistem organisasional ke dalam situasi dimana audit kontinu berkembang secara de facto sebagai teknologi karena sistem, sistem informasi, dan sistem pengendalian utama dan skunder mengotomasi dan mengirangi siklus waktu dan memberikan kepuasan karena pengambilan keputusan yang lebih baik. Pemantuan, penjaminan dan pelaporan kontinu adalah komponen dari perspektif yang lebih luas akan adanya perkembangan dan evolusi dari audit kontinu.
Referensi
The Canadian Institute of Chartered Accountants and the AICPA, Continuous Auditing, The Canadian Institute of Chartered Accountants, 1999.
Licker, Paul S., Management Information Systems: A Strategic Leadership Approach, Harcourt Brace and Company, 1997.
Robert Nehmer, Ph.D.
adalah profesor madya dalam administrasi bisnis di Berry College, Georgia. Nehmer mengajar dalam bidang akuntansi dan sistem informasi di Berry College. Beliau telah memublikasikan “Transaction Agents in eCommerce: A Generalized Framework” dalam Trust and Data Assurances in Capital Markets: The Role of Technology Solutions, suatu serial monografi penelitian yang disponsori oleh PricewaterhouseCoopers LLP
Senin, 16 November 2009
Langganan:
Komentar (Atom)